JAKARTA, KOMPASINDO.CO.ID, Rabu, 10 Januari 2024, Pada “Refleksi Tahun 2023 dan Harapan Tahun 2024” di Aula Buya Hamka MUI, Jakarta, Dubes Bunyan Saptomo, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, menyoroti perubahan signifikan dalam politik global yang dicirikan oleh kembalinya era kekuatan dan semangat ingin menang sendiri.
Menurut Bunyan, MUI dan ormas Islam di negara Muslim terbesar di dunia harus memainkan peran penting dalam memperhatikan dunia Islam yang terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, kelompok negara mayoritas Muslim; kedua, negara-negara OKI termasuk yang memiliki minoritas Muslim; dan ketiga, masyarakat Islam (Muslim Ummah) yang tersebar di seluruh dunia.
Dalam konteks ini, Bunyan mengapresiasi keberhasilan OKI dalam menggolkan resolusi untuk menetapkan Hari Internasional PBB dalam melawan islamophobia. “Ini keberhasilan OKI yang fenomenal dan luar biasa,” ujar Bunyan. Dia mendorong untuk terus memperingati, mensosialisasikan, dan mendukung resolusi tersebut setiap tahun pada bulan Maret.
Pada tahun 2023, MUI intensif dalam penyeruan resolusi terkait islamophobia dan dukungan terhadap Palestina. Bunyan mengungkapkan kebanggaan bahwa MUI berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta umat dengan menggelar kegiatan di Monas, yang hasilnya disalurkan ke Palestina.
Selain itu, MUI berinisiatif untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Hebron, meskipun karena beberapa kendala, dana tersebut dialihkan ke masyarakat Gaza. Keputusan ini mencerminkan komitmen MUI untuk kontribusi kemanusiaan di tengah konflik.
Poin positif lainnya adalah kesepakatan antara Saudi Arabia dan Iran, diwakili oleh tokoh sunni dan syiah dengan mediasi China. “Walaupun mediatornya bukan Muslim, kita harus berterima kasih atas hal ini,” kata Bunyan. Lebih lanjut, Iran dan Saudi diterima bergabung dalam BRICS, menunjukkan peran China serta mengurangi ketergantungan Saudi terhadap Amerika.
Dalam pandangan Bunyan, OKI dan BRICS memiliki kepentingan bersama dalam melawan ketidakadilan global. Menyoroti perubahan dinamika geopolitik, ia mengamati pengurangan kehadiran militer di sekitar Iran, menandakan kendornya kepungan Amerika terhadap Iran.
Menyongsong tahun 2024, Bunyan memproyeksikan bahwa dunia Islam akan terus dihadapkan pada islamophobia, masalah Palestina dan Rohingya, konflik, serta krisis pengungsi. Dia memperingatkan potensi peningkatan persaingan antara Barat (AS dan UE) dan Timur (China dan Rusia), yang mungkin memanfaatkan dunia Islam sebagai medan perang proksi.
Dalam upaya mengantisipasi hal ini, Komisi HLNKI berkomitmen untuk melanjutkan berbagai program, termasuk melawan islamophobia, mempromosikan Islam Wasathiyah, pelatihan diplomasi, FGD pembentukan perwakilan MUI di luar negeri, dan misi muhibah ke negara-negara seperti Maroko, Saudi Arabia, Mesir, Malaysia, Brunei, dan Kamboja.
“Kita, sebagai Indonesia, harus menunjukkan bahwa Islam yang kita anut adalah Islam yang moderat dan dapat bekerjasama dengan berbagai negara di dunia,” tegas Bunyan. Ia menyebut alokasi dana Indonesia sebesar 0,7% dari GNI, dengan harapan untuk lebih meningkatkan kontribusinya di masa depan.
Akhirnya, Bunyan mengungkapkan harapannya bahwa kerjasama antara civil society dan MUI dapat menciptakan perdamaian di dunia yang tengah dihadapkan pada berbagai tantangan global. Tutupannya, “Kita sangat senang jika civil society dapat bekerjasama dengan MUI dalam berbagai program untuk menciptakan perdamaian di dunia.”












