KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 11 Juli 2022 – “Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, Kurang cakap dapat dihilangkan dengan budipekerti, Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki”, agaknya masih relevan kata bijak Sang Wakii Presiden pertama Indonesia itu khususnya dengan kondisi koperasi saat ini?
Tatkala dunia sedang berlomba memenangi persaingan global, menuju dunia yang semakin sempit, menuju era digitalisasi atau sering disebut zaman Informasi komunikasi dan Teknologi (ICT), faktor manusia menjadi sangat penting, secanggih apapun teknologinya tetap saja kunci sukses sebuah sistem mutlak pada kompetensi serta kualitas Sumber Daya Manusianya (SOM).
Faktor kecerdasan, kepintaran salah satu kuncinya. Pendidikan dan pelatihan serta kompetensi bisa diatasi dengan menyisihkan investasi SDM yang lebih besar, secara berkelanjutan, namun manakala kejujuran, budi pekerti, sikap mental, karakter, apalagi mental berkoperasi, yang terkikis agaknya sulit untuk diperbaiki.
Sepertinya pesan Itu yang tersirat dari Sang Proklamator yang kehidupannya sangat sederhana walaupun beliau berpendidikan sangat tinggi, andai mau hidup mapan dan kaya sangat bisa, tap! beliau memilih jatan bersahaja,
Koperasi sebagai kumpulan bukan modal, namun beranggotakan orang-orang, bersifat terbuka, sukarela, demokratis, sisa hasil usaha dikelola dan dibagikan secara adil, kemandirian, gotong royong, kerjasama antar koperasi, serta tak lupa pendidikan dan pelatihan serta kompetensi, agar produktifitas, efisiensi selalu meningkat berkesinambungan. Faktor mental SDM agaknya memang relatif rumit, walaupun selalu ada solusi, selama pandemi Covid-19, banyak negara (lebih dari 60) yang sudah menyatakan krisis, ditambah lagi harga barang dan jasa bak pembalap tak mau ketinggalan berlomba mendaki, diikut! inflasi, suku bunga, kemudian disusul daya beli yang semakin melorot, otomatis angka kemiskinanpun nambah.
Padahal Koperasi itu berfungsi sebagai Soko guru penopang Ekonomi bersama BUMN dan Swasta, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kelihatannya pilar tersebut kurang kokoh menopang, beban teramat berat itu.
Indonesia sangat membutuhkan kata bijaksana bapak koperasi itu untuk diimplementasikan dalam perkoperasian, semoga Insan koperasi beserta semua pemangku kepentingan khususnya kementerian Koperasi berkaca ulang untuk memberikan contoh kongkrit praktik nilai-nilai koperasi sesungguhnya kepada Sang Bapak Koperasi Indonesia, teriring salam serta Do’a dari Indonesia Senantiasa untukmu Bung.












