JAKARTA, KOMPASINDO.CO.ID, Pada 11 Januari 2024, Center for International Forestry Research (CIFOR) dan World Agroforestry (ICRAF) menggelar Workshop Nasional Ke-3 Kelapa Sawit yang dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Pusat, Akademisi, Organisasi Internasional, Mitra Peneliti, NGO, CSO, dan undangan lainnya.

Tema utama Workshop Nasional Ke-3 adalah “Penguatan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Mitigasi Krisis Iklim.” Prof. Dr. Herry Purnomo, Senior Scientist and Indonesia Country Director, menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan untuk mendukung perubahan dalam mendukung kelapa sawit berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi krisis iklim.
Acara ini mencakup paparan dan diskusi pengembangan jalur perubahan, asumsi dan risiko diskusi antar kelompok, penguatan data, koordinasi dan infrastruktur. Selain itu, juga dibahas peningkatan kapasitas dan kapabilitas perkebunan, pengelolaan lingkungan, tata kelola perkebunan, dan penanganan sengketa.
Dalam wawancara, Prof. Dr. Herry Purnomo menekankan tema utama acara ini, yakni penguatan kelapa sawit berkelanjutan, kesejahteraan masyarakat, dan mitigasi risiko. Beliau menyoroti kontribusi signifikan kelapa sawit dalam ekonomi daerah, namun juga menegaskan adanya tantangan terkait deforestasi.
Pertemuan membahas upaya konkret untuk mengurangi deforestasi, meningkatkan produktivitas, dan mencapai keseimbangan ekonomi-lingkungan. Dalam konteks ini, pentingnya tata kelola yang baik, keseimbangan antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sipil menjadi fokus utama.
Prof. Dr. Herry Purnomo juga menggarisbawahi perlunya komitmen global dalam menangani deforestasi, dengan mencatat bahwa Indonesia telah menunjukkan progres dalam mengurangi deforestasi, meskipun tantangan masih ada. Beliau berharap agar tren positif ini terus berlanjut demi mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan.
Dalam konteks nasional dan internasional, Prof. Dr. Herry Purnomo menyoroti pentingnya diplomasi proporsional dan penekanan pada progres positif. Meskipun mengakui adanya kritik, beliau menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen pada prinsip-prinsip pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, sesuai dengan konstitusi.
Prof. Dr. Herry Purnomo mengakhiri wawancara dengan harapan bahwa Indonesia, melalui penguatan kelapa sawit berkelanjutan, dapat mengurangi emisi, memperbesar ekonomi, dan memberikan kontribusi positif di tingkat internasional. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan partisipasi masyarakat sesuai dengan prinsip konstitusi. (Hsn)












