Oleh: Dr. Yusuf Tawulo, MM, MH – Pemerhati dan Penggagas Lembaga Adat Besar Sulawesi Tenggara (LABSSTRA-Halu Oleo)
JAKARTA, TRENDINGINDO.COM, Kamis, 17 Juli 2025 – Dalam perjalanan membangun Lembaga Adat Besar Sulawesi Tenggara (LABSSTRA-Halu Oleo), kesadaran tentang pentingnya konektivitas spiritual dan kultural menjadi bagian utama dari kebangkitan jati diri masyarakat adat. Gerakan ini tidak lahir dari ruang formal semata, melainkan dari diskusi kecil, duduk silaturahmi, dan interaksi batin dengan para pecinta, pegiat, dan tokoh adat di seluruh wilayah Sultra.
Pendekatan spiritual yang dilakukan LABSSTRA berangkat dari penghormatan terhadap para ahli waris artefak, penjaga nilai, dan pemangku adat yang selama ini menjaga kekayaan budaya dengan kesetiaan. Dari sana, lahir pemahaman bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan benda dan acara, tetapi juga energi dan getaran yang berakar dalam hukum alam semesta dan keterkaitan cakra kehidupan.
Perhatian terhadap tanah adat dan spiritualisme lokal membuka ruang kesadaran bahwa Sulawesi Tenggara menyimpan rahasia kekuatan besar yang diwariskan untuk generasi muda masa kini, menuju peradaban baru 2045.
Sebagai bagian dari penguatan nilai dan manifestasi budaya, LABSSTRA mendukung dan mendorong konsolidasi festival dan pesta adat daerah sebagai ruang pewarisan, ekspresi, dan pertemuan lintas suku. Festival bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat sejarah, jembatan identitas, dan benteng terakhir budaya lokal.
Beberapa festival budaya penting yang mencerminkan kekayaan adat Sultra antara lain:
- Festival Liangkabori di Muna, yang berpusat di Goa Liangkabori dengan seni lukis dinding kuno dan permainan layang-layang tradisional Kaghati Kolope
- Festival Tangkeno di Bombana, bagian dari Karisma Event Nusantara, yang menyajikan atraksi budaya di puncak pegunungan
- Festival Budaya Bombana, dengan tema harmoni keberagaman yang menegaskan semangat persaudaraan antar-suku
- Festival Pesona Budaya Tua Buton, menampilkan tarian kolosal pelajar, kuliner, kesenian, dan kerajinan rakyat
- Festival Tenun dan Atraksi Budaya, yang diikuti oleh 17 kabupaten/kota di Sultra
- Festival Adat Moronene, dengan puncaknya pada ritual Mo’oli Wonua sebagai simbol restorasi tanah leluhur
- Festival Mabulugo, sebuah kolaborasi unik antara budaya Bali dan Buton
- Festival Wowine di Wakatobi, sebagai panggung promosi kearifan budaya bahari
- Festival Seni Budaya Pesisir, yang diprakarsai oleh jaringan perempuan pesisir Sulawesi Tenggara
Selain festival, berbagai upacara adat tradisional juga terus dilestarikan, di antaranya:
- Posobhaghoo Motonuno
- Upacara Posuo
- Okanda
- Paduai Bido
- Perkawinan Adat Tolaki dan Sultra
- Mosehe
- Karia
dan lainnya
LABSSTRA-Halu Oleo berkomitmen mengarusutamakan perayaan budaya sebagai kekuatan kolektif masyarakat adat. Dalam setiap tarian, ritual, dan busana tradisional, terdapat narasi identitas yang harus terus disuarakan agar tidak hilang dalam modernitas yang bergerak cepat.
Gerakan ini adalah undangan bagi generasi muda untuk kembali pulang, bukan hanya ke tanah leluhur, tetapi ke nilai-nilai dasar yang membentuk kita sebagai satu tubuh masyarakat adat Sulawesi Tenggara.
Fokus. Serius. Semangat. Itulah semangat LABSSTRA menatap masa depan peradaban baru.
Bersambung ke Bagian 7…












